Widget HTML Atas

Tawakkal & Ikhtiar: Antara Kesia-siaan Kepasrahan Berserah Diri dan Kesombongan



Setuju dari pandangan kesehatan maupun agama dunia wal akhirah kite harus seimbang bukan egosentris dan menurut pendapat pribadi kite yang faqir ilmu ini. 

Memang setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. 
_"Setiap yang bernyawa pasti akan mati"_ (Kullu nafsin żā'iqatul-maut) adalah kepastian mutlak yang tertuang dalam Al-Qur'an (QS. Ali 'Imran: 185, Al-Ankabut: 57, Al-Anbiya: 35). 

Tapi Allah dak pernah nyuruh hambanya mati konyol. Allah memang mau kite tidak takut mati (alias siap mati), tidak juga *mencari mati* tapi mempersiaplan bekal sebelum mati. 

Dan serahkanlah segala urusan kepada ahlinya. Jika menurut ahli kesehatan bahwa ada penyakit virulen berbahaya dan mudah menyebar maka kite taati protokol kesehatan krn perintah allah jg *mencegah* lebih baik daripada mengobati. 

Perintah Allah untuk *berikhtiar (berusaha) sebelum bertawakal* didasarkan pada prinsip bahwa hasil adalah hak prerogatif Allah, namun *proses adalah tanggung jawab hambanye*. 

Islam mewajibkan *usaha maksimal* yang diikuti dengan *penyerahan diri (tawakal)* sepenuhnya, seperti sabda Nabi: _"Ikat untamu, lalu bertawakal"_ (HR. Tirmidzi).

Karna Rasulullah memerintahkan untuk mengikat unta sahabatnya setelah itu baru bertawakkal. Kalau untanya lepas atau hilang setelah diikat itu qadarullah. 

Tapi kalau untanya hilang atau lepas tanpa diikat, itu makna tawakkal yang keliru dan termasuk kebodohan dan kesombongan. 

Q.S. Ar Ra'd:11 _"Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka"._

Ayat ini kan menegaskan bahwa perubahan nasib, baik individu maupun kelompok, sangat *bergantung pada usaha (ikhtiar), perilaku, dan pola pikir manusia* itu sendiri, tidak hanya pasrah pada takdir. 

Rasulullah SAW juga mengibaratkan tawakal seperti _burung yang keluar pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang._

Burung tersebut pergi mencari makan *(ikhtiar), bukan berdiam diri di sarang.*

Jadi, keseimbangan *Ikhtiar adalah bentuk tanggung jawab*, sedangkan *tawakal adalah bentuk keyakinan bahwa Allah akan memberikan hasil terbaik.*

Ikhtiar tanpa tawakal adalah *kesombongan*, 

sedangkan tawakal tanpa ikhtiar adalah *kepasifan/kesia-siaan.* 

*Tawakal yang benar adalah* tindakan hati yang bersandar penuh pada Allah *setelah melakukan tindakan fisik berupa ikhtiar yang maksimal.*

πŸ™πŸ™πŸ™
Hadi Kurniawan Apt
Hadi Kurniawan Apt Just Cool Just Smile