Minggu, 22 Juli 2012

BIMBINGAN PRA-PKPA RUMAH SAKIT

TUGAS INDIVIDU

BIMBINGAN PRA-PKPA
RUMAH SAKIT



Dosen Pembimbing : Dimas Adhi Pradana, M.Sc., Apt.

Disusun oleh:
                                Nama   : Hadi Kurniawan, S.Farm.
                                NIM      : 12811090
                                Kelas     : B

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2012

TUGAS INDIVIDU
BIMBINGAN PRA-PKPA RS MARGONO SOEKARDJO DAN RS SOEBANDI
Dosen Pembimbing : Dimas Adhi Pradana, M.Sc., Apt.

1. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang:
a. PFT
b. Sistem Formularium RS
c. Formularium RS
2. Jelaskan 3 metode perencanaan kebutuhan obat di rumah sakit!
3. Buatlah layout Gudang Farmasi Rumah Sakit yang memenuhi standar!
4. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang:
a. FEFO (First Expired Date First Out)
b. Economic Order Quantity (EOQ)
c. Economic Order Interval (EOI)
5. Jelaskan kelebihan dan kekurangan dari sistem distribusi Floor Stock!
6. Tn. Agus, usia 62 tahun, berat badan 70 Kg dan tinggi badan 164 cm, mendapat resep di bawah. Ketika Anda mencoba menggali informasi dari Tn. Agus, beliau mengatakan bahwa resep ini adalah resep pertama yang ditulis dokter karena akhir-akhir ini beliau merasakan serangan asam uratnya semakin memburuk. Sebelumnya beliau hanya mendapatkan resep piroxicam 20 mg sekali sehari untuk mengatasi serangan akut asam uratnya. Karena frekuensi serangan asam urat lebih sering terjadi, maka dokter meresepkan allopurinol 300 mg sekali sehari. Ketika Anda menanyakan keluhan dan masalah kesehatan lain yang dialami Tn. Agus, beliau mengatakan bahwa dua minggu yang lalu beliau datang ke puskesmas untuk tes darah dan dari hasil pemeriksaan petugas puskesmas menyatakan bahwa selain kadar asam urat yang tinggi, ginjal beliau juga sedikit menurun fungsinya (dengan SCr 1,8 mg/dL).

Isi resep:
Feldene tab XII
Sbdd tab I pc

Allopurinol 300 mg tab X
Ssdd tab I

Omeprazole 20 mg tab X
Ssdd tab I ac

Becom-C tab X
Ssdd tab I

Pro: Tn. Agus         Umur: 62 th

Analisislah kasus tersebut!
Jawab:

1.      Jelaskan tentang:
a. PFT (Panitia Farmasi dan Terapi)
Panitia yang mengevaluasi secara klinik penggunaan obat di RS, mengembangkan kebijakan-kebijakan untuk pengelolaan penggunaan obat, pemberian obat dan tatalaksana, serta mengelola sistem formularium. Panitia ini merupakan suatu kelompok pemberi rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan penggunaan terapi obat bagi staf medik dan pimpinan rumah sakit. Jadi, definisi PFT adalah sekelompok penasehat dari staf medik dan bertindak sebagai penghubung garis komunikasi organisasi antara staf medik dan IFRS. PFT berada dibawah direktur. Anggota PFT terdiri dari Ketua: Dokter ahli farmakologi klinik, Sekretaris: Farmasis, Anggota: Dokter, Apoteker, Perawat, Tenaga kesehatan lain dan Tenaga Administrasi.
Tugas PFT:
1)   Memberi nasehat kepada staf medis dan manajemen rumah sakit.
2)   Menyusun standar terapi (SPM/Standar Pelayanan Medik).
3)   Menyusun formularium RS.
4)   Mendefinisikan kategori obat-obatan.
5)   Memberi masukan kepada Instalasi Farmasi di dalam mengembangkan kebijakan, meninjau kebijakan dan tata tertib dalam penggunaan obat.
6)   Drug Utilization Review (DUR), Monitoring Efek Samping Obat (MESO).
7)   Mengembangkan dan menyebarkan materi pendidikan terkait obat-obatan pada staf medis dan perawatan.

Fungsi/Peran PFT:

1)      Memberikan nasehat kepada staf medik, manajemen/pihak administrasi RS, IFRS terkait  dengan penggunaan obat.
2)      Mengembangkan kebijakan-kebijakan obat dan tatalaksananya (SOP). 
 Misal :
a)      Pengelolaann obat.
b)      Standar Terapi, algoritma terapi.
c)      Penambahan obat baru.
d)     Penggunaan obat non-formularium.
e)      Penggunaan obat  formularium yang dikhususkan misal penelitian obat.
f)       Substitusi obat generik.
g)      Automotic stop orders.
h)      Forum obat baru dan pedomannya, menyediakan literatur.
i)        Blangko-blangko resep/permintaan obat.
3) Melaksanakan seleksi obat-obatan untuk masuk dalam formularium dan mengevaluasinya secara periodik (Revisi Formularium).
4)  Melakukan penilaian penggunaan obat untuk mengidentifikasi problem.
5)  Mempromosikan, mengendalikan dan memimpin upaya perbaikan penggunaan  obat/rasionalitas.
a) Intervensi edukasi : program edukasi staff profesional RS, edukasi pasien dan  keluarganya.

b) Intervensi managerial : penerapan standard terapi,  studi penggunaan obat, program klinikal farmasi. 
c) Intervensi regulasi : peraturan-peraturan penggunaan obat.
6) Mengelola ADR (Adverse Drug Reaction): monitoring, pengukuran ADR,   pelaporan, pencegahan dan medication error.
7)  Mensosialisasikan hasil-hasil rekomenasi kepada staff medik.

Evaluasi PFT:
1)      Kepatuhan terhadap formularium.
2)      Persentase usulan kebijakan PFT yang diakomodir direktur.
3)      Evaluasi penggunaan obat.
4)      Evaluasi formularium.
5)      Tetapkan kriteria seleksi.
6)      Standardisasi.
7)      Revisi formularium.

PFT bertanggung jawab pada:
1)   Semua dokter.
2)   Evaluasi Penggunaan Obat.
3)   Komitmen pada evaluasi pelayanan, pendidikan dan memberikan saran kepada dokter, dan organisasi yang berkaitan dengan penggunaan obat.
4)   Bertanggung jawab pada kebijakan dan prosedur penggunaan obat.
5)   Masuk dalam medical by laws.
6)   MESO, pelaporan, pencegahan medication error, dan pengembangan pelayanan klinik dan pedoman-pedomannya.

b. Sistem Formularium RS
Sistem formularium adalah suatu sistem bagi anggota staf medis secara periodik melakukan sesuatu yang mencakup pengusulan obat untuk dimasukkan ke dan/atau dihapus dari formularium, program evaluasi penggunaan obat (EPO), pelaporan  ROM, pengadaan program monografi acuan dan program pendidikan “in-service” terkait obat, penilaian, seleksi/pemilihan obat untuk formularium berdasarkan evidence based, pemeliharaan formularium, penggunaan obat menghasilkan outcome terbaik dan meminimalisir potensi resiko dan biaya serta penyelenggara informasi. Definisi sistem formularium adalah suatu medote yang digunakan staf medik dari suatu rumah sakit yang bekerja melalui PFT, mengevaluasi, menilai, dan memilih dari berbagai zat aktif obat dan produk obat yang tersedia yang dianggap paling berguna dalam perawatan penderita. Hanya obat yang dipilih demikian yang secara rutin tersedia di IFRS. Jadi, sistem formularium adalah sarana penting dalam memastikan mutu penggunaan obat dan pengendalian harganya. Sistem formularium menetapkan pengadaan, penulisan, dispensing, dan pemberian suatu obat dengan nama dagang atau obat dengan nama generik apabila obat itu tersedia dalam dua nama tersebut. Hasil utama dari pelaksanaan sistem formularium adalah formularium rumah sakit. Salah satu karekteristik penting dari suatu sistem formularium ialah bahwa sistem itu mencerminkan pertimbangan klinik metakhir dari staf medik rumah sakit, tempat sistem itu diterapkan. Sistem tersebut harus lentur dan dinamis.

c. Formularium RS
Dokumen yang berisikan daftar obat/kumpulan produk obat yang dipilih PFT disyahkan untuk digunakan di Rumah Sakit yang memuat informasi tambahan penting tentang penggunaan obat tersebut (generik, indikasi penggunaan, kekuatan, bentuk sediaan, posologi, toksikologi, jadwal pemberian, kontraindikasi, efek samping, dosis regimen yang direkomendasikan) yang harus diberikan kepada pasien, serta kebijakan dan prosedur berkaitan obat yang relevan untuk rumah sakit tersebut, yang terus menerus direvisi agar selalu akamodatif bagi kepentingan penderita dan staf profesional pelayanan kesehatan berdasarkan data konsumtif dan data morbiditas/epidemiologi serta pertimbangan klinik staf medik, IFRS dan perawat menggunakan sistem tersebut adalah penting bahwa formularium harus lengkap, ringkas, dan mudah digunakan.

Format Formularium:
1)      Sampul luar: Judul “FORMULARIUM OBAT”, nama RS, tahun berlaku, dan nomor edisi.
2)      Daftar isi.
3)      Sambutan.
4)      Kata pengantar.
5)      SK KFT dan pemberlakuan formularium.
6)      Petunjuk penggunaan formularium.
7)      Informasi tentang kebijakan dan prosedur formularium.
8)      Monografi obat.
9)      Lampiran (formulir, indeks kelas terapi obat, indeks nama obat).

Manfaat penggunaan formularium:
1)      Meningkatkan mutu dan ketepatan penggunaan obat di RS.
2)      Edukasi bagi tenaga kesehatan tentang terapi obat yang rasional.
3)      Memberikan rasio manfaat-biaya yang tinggi.
4)      Memudahkan tenaga kesehatan memilih persediaan.
5)      Membuat sejumlah batasan terapi obat.
6)      Pengelolaan lebih efektif.

2. Metode Perencanaan:
1)   Metode Konsumsi
Perhitungan kebutuhan didasarkan pada data riil konsumsi obat periode yang lalu,  dengan berbagai penyesuaian dan koreksi.

Langkah-langkah metode konsumsi:
a.    Lakukan evaluasi.
b.    Estimasi jumlah kebutuhan obat periode mendatang.
c.    Penerapan perhitungan.

Metode konsumsi digunakan untuk:
Digunakan untuk obat atau alkes yang sudah mempunyai data konsumsi yang mantap, yang tidak bisa dihitung dengan kasus per kasus penyakit.         
Misal: a. Infus cairan dasar (RL, D5%, NACL dll).
        b. Injeksi antibiotika generik, inj generik.
c. Alat kesehatan habis pakai spuit, infuset, IV Cateter dll.

Kelebihan:
a.       Tidak perlu data epidemologi dan standard pengobatan.
b.      Bila data konsumsi lengkap dan pola preskripsi tak berubah, pola perskripsi relatif konstan maka kelebihan stock sangat kecil.
c.       Mudah.
d.      Sederhana.
e.       Dapat diandalkan bila data konsumsi dicatat dengan baik.

Kekurangan:
a.       Tidak dapat dijadikan dasar dalam mengkaji penggunaan obat dan perbaikan preskripsi.
b.      Tidak dapat diandalkan jika terjadi kekurangan stock obat lebih dari 3 bulan, obat berlebih, atau adanya kehilangan.
c.       Tak perlu catatan pola penyakit yang baik.
d.      Data konsumsi harus akurat.
e.       Penggunaan obat yang berlebih dapat terjadi.
f.       Obat macet.

2)      Metode Epidemiologi
Metode perencanaan berdasarkan pada epidemiologi /morbiditas. Perencanaan dengan metode epidemiologi membutuhkan prediksi epidemiologi yang tepat. Bagaimana memprediksi epidemiologi yang mana kasus penyakit fluktuatif, kecenderungannya menaik atau menurun sehingga tidak bisa diambil data rata-rata. Maka dapat digunakan beberapa metode antara lain:
a.       Melakukan analisis data berkala sehingga mendapatkan garis trend/regresi,
b.      Menggunakan pendekatan analisis regresi sederhana.
       Data yang diperlukan berupa: morbiditas, jenis penyakit yang penting, problem kesehatan, jumlah episode setiap penyakit per periode, kebutuhan obat yang mudah diperkirakan dengan rata-rata standard terapi.
       Sangat cocok bila ada data statistik kesehatan yang lengkap dan program kesehatan yang mapan, standar terapi yang mantap dan dipatuhi.
       Tidak cocok apabila data statistik kesehatan tidak baik dan variasi kondisi antar daerah sangat besar, standar terapi yang kurang dipatuhi.

Langkah-langkah perencanaan metode epidemiologi:
a.    Susun daftar masalah kesehatan atau penyakit utama yang terjadi.
b.    Lakukan pengelompokkan pasien, misalkan kelompok usia.
c.    Tentukan frekuensi tiap penyakit per tahun atau per periode.
d.   Susun standar terapi rata-rata atau terapi ideal.
e.    Estimasi tipe dan frekuensi pengobatan yang diperlukan.
f.     Susun daftar obat yang dikuantifikasikan.
g.    Hitung jumlah episode pengobatan untuk setiap penyakit.
h.    Hitung kuantitas obat yang dibutuhkan.
i.      Hitung safety stock (SS) atau jumlah obat diperkirakan hilang.
j.      Hitung CT nya.
Metode epidemiologi bertujuan untuk:
a.       Mengetahui kebutuhan perbekalan kesehatan suatu  populasi masyarakat tertentu (obat program KB, obat program imunisasi).
b.      Memperkirakan kebutuhan obat atas dasar data epidemiologi.

Metode epidemiologi digunakan untuk:
a.    Perencanaan kebutuhan obat yang mana kasus penyakit cenderung naik atau turun.
b.    Perencanaan kebutuhan penyakit tertentu, terutama penyakit yang perlu menggunakan obat mahal (obat kanker, albumin, anastesi inhalasi).
c.    Program pengembangan pelayanan kesehatan RS yang baru.
d.   Penyediaan obat floor stock di ruang rawat inap atau ruang tindakan medik.

Kelebihan:
a.    Mendorong pencatatan epidemioligi yang baik, pemantapan standar terapi.
b.    Perkiraan kebutuhan mendekati kebenaran.
c.    Dapat digunakan pada program baru.

Kekurangan:
a.       Rumit.
b.      Lama.
c.       Harus dilaksanakan oleh tenaga profesional.
d.      Butuh waktu lama.
e.       Data penyakit sulit di peroleh dengan pasti mungkin karena tak melapor/diagnosis tak ditulis dengan lengkap, atau penyakit tidak terdaftar dalam daftar penyakit.
f.       Pola penyakit dan pola preskripsi tidak selalu sama.
g.      Dapat terjadi kekurangan obat karena ada wabah atau kebutuhan insidentil.
h.      Variasi obat terlalu luas.

3)      Kombinasi Metode Konsumsi dan Epidemiologi
       Berupa perhitungan kebutuhan obat atau alkes yang mana telah mempunyai data konsumsi yang MANTAP namun kasus penyakit cenderung berubah (naik atau turun).
       Gabungan perhitungan metode konsumsi dengan koreksi  epidemiologi yang sudah dihitung dengan suatu prediksi (boleh prosentase kenaikan kasus atau analisa trend).
       Koreksi  tersebut dapat berupa penambahan  bila kasus epidemiologi naik, berupa pengurangan bila kasus epidemiologi turun.

Metode kombinasi digunakan untuk:
a.    Untuk obat dan alkes yang terkadang fluktuatif maka dapat menggunakan metode konsumsi dengan koreksi-koreksi pola penyakit, perubahan, jenis/jumlah tindakan, perubahan pola peresepan, perubahan kebijakan pelayanan kesehatan.
b.    Farmasis harus mengikuti perkembangan perubahan pola penyakit, dan perubahan-perubahan terkait dan secara terus menerus melakukan analisa data.
c.    Harus disertai kesepakatan penatalaksanaan terapi/tindakan antara pihak SMF, Farmasi, pihak manajemen RS.
d.   Farmasi perlu sering berkomunikasi dengan pihak terkait dan memonitor jumlah tindakan/kunjungan dan persediaan obat.

3. Layout gudang farmasi rumah sakit:
Layout gudang merupakan desain yang mencoba meminimalkan biaya total dengan mencapai paduan yang terbaik antara luas ruang dan penanganan bahan. Manajemen bertugas memaksimalkan tiap unit luas gudang yaitu memanfaatkan volume penuhnya sambil mempertahankan biaya penanganan (Holding Cost) bahan yang rendah. Yang mana biaya penanganan bahan adalah biaya-biaya yang terkait dengan transportasi barang yang masuk, penyimpanan bahan keluar, meliputi peralatan, tenaga kerja, bahan, biaya pengawasan asuransi, penyusutan. Layout gudang yang efektif meminimalkan kerusakan bahan di gudang. Gudang untuk bahan yang mudah terbakar, bahan sitotoksik ditempatkan terpisah dari gedung pelayanan/perawatan (bangsal), barang tidak diletakkan di lantai, dinding kokoh tidak mudah terbakar, pintu gudang minimal 2 untuk kelancaran jalur arus masuk dan keluar barang dan orang, disesuaikan suhu ruangan terhadap karakteristik masing-masing perbekalan, misalnya suhu dingin, sejuk, suhu kamar, gudang terletak di depan sehingga memudahkan akses namun pintu di depan disertai pos penjagaan satpam untuk menghindari kecurian dan meningkatkan keamanan.
Penyimpanan berarti mengelola barang yang ada dalam persediaan, dengan maksud selalu dapat menjamin ketersediaannya bila sewaktu-waktu dibutuhkan pasien, terjadi stock out  (kehabisan stok) atau over stock (stok menumpuk), tempat penyimpanan yakni gudang farmasi.
Tujuan penyimpanan:
a.       Memelihara mutu barang dan menjaga  kelangsungan persediaan (selalu ada stock)
b.      Menjamin keamanan dari kecurian dan kebakaran
c.       Memudahkan dalam pencarian dan pengawaasan persediaan barang kadaluarsa.
d.      Menjamin pelayanan yang cepat dan tepat.

Fungsi gudang farmasi:
a.       Menjamin pelayanan yang cepat dan tepat. Menerima, menyimpan, memelihara, dan mendistribusikan perbekalan farmasi.
  1. Menyiapkan penyusunan perencanaan tahunan, perencanaan pembelian, pencatatan pelaporan mengenai persediaan dan penggunaan perbekalan farmasi.
  2. Menjaga  mutu dan khasiat obat yang disimpan.
Pengelolaan gudang:
a.       Dilaksanakan oleh tenaga yang kompeten, terdidik, mempunyai izin untuk menangani yakni farmasis. 
  1. Guna mempermudah pengawasan maka unit perbekalan farmasi harus dibawah pengelolaan farmasis untuk menjamin persediaan selalu tetap memenuhi persyaratan kefarmasian.
Gudang:
TEMPAT
Persyaratan ruang penyimpanan perbekalan farmasi:
a.       Accessibility, ruang penyimpanan harus mudah dan cepat diakses
  1. Utilities, ruang penyimpanan harus memiliki sumber listrik, air, AC, dan fasilitas lain.
  2. Communication/komunikasi, ruangan penyimpanan itu harus memiliki alat komunikasi.
  3. Drainage, ruangan penyimpanan harus berada di lingkungan baik dengan sistem pengairan yang baik pula.
  4. Size/ukuran/luas, ruang penyimpanan harus memiliki ukuran yang cukup untuk menampung barang yang ada.
  5. Security/keamanan, ruang penyimpanan aman dari resiko pencurian dan penyalahgunaan serta hewan pengganggu.
DESIGN
a.        Gerak
  1.  Sirkulasi udara
  2.  Bulk atau pallet
  3.  Pemeliharaan
  4.  Pengaturan barang/ sistematica stock
  5.  Pemeliharaan “cold chain”
  6.  Keamanan untuk zat tertentu
  7.  Area tahan api
  8.  Pengaman/alarm kebakaran
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan:
a.       Penyimpanan < 25°C (sejuk) : disimpan dalam ruangan ber-AC
b.      Penyimpanan dingin disimpan dalam lemari pendingin (2-8°C).
c.       Penyimpanan 0°C disimpan dalam freezer.
d.      Narkotika disimpan dalam lemari narkotika yang sesuai UU, Psikotropika.
e.       Barang mudah terbakar disimpan dalam gudang tahan api yang dilengkapi dengan alat pemadam kebakaran.

Metode penyimpanan perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi Rumah Sakit:
a.    Berdasarkan bentuk sediaan, penyimpanan sediaan padat (tablet), sediaan cair (sirup), serta alat-alat kesehatan harus dipisahkan, sesuai sifat fisika kimianyaa (ikuti petunjuk yg tertera pada kemasan).
b.    Vaksin, B3, Citostatika, Reagensia, bahan radiologi, Injeksi, Infus ditempat dan suhu yang khusus.
c.    Menurut abjad atau alfabetis.
d.   Menurut farmakoterapi/farmakologi.
e.    Sistem First in first out (FIFO) / First expire first out (FEFO) atau kombinasi keduanya. Untuk sistem FIFO, penyimpanan berdasarkan pada obat yang pertama kali masuk, sedangkan sistem FEFO berdasarkan pada obat yang mempunyai expire date/kadaluarsa terdekat.
f.     Metode penyimpanan menerapkan beberapa sistem, sesuaikan dengan jenis perbekalan farmasi dan sifat pelayanan.

Penyimpanan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun):
Bahan mudah terbakar, meledak, korosif, karsinogenik. Penyimpanan B3 disertai MSDS (Material Safety Data Sheet).
Contoh MSDS:
Disimpan di tempat yang aman, terhindar dari benturan fisik, ruangan penyimpanan kering, sejuk, berventilasi cukup, jauh dari tempat berpotensi kebakaran, bebas rokok.
WADAH:
Diberi tanda peringatan : “JAUHKAN DARI PANAS, PERCIKAN DAN SEMBURAN API, TIDAK BOLEH DIHIRUP, HINDARI KONTAK DENGAN MATA, KULIT, DAN PAKAIAN, WADAH HARUS TERTUTUP RAPAT, GUNAKAN DALAM KEADAAN VENTILASI CUKUP, CUCI TANGAN SETELAH MENGGUNAKAN ALKOHOL”.

Distribusi:
a.    Selama distribusi wadah harus tertutup rapat.
b.    Jauhkan dari bahaya api dan benturan.
c.    Selama mendistribusikan alkohol, petugas tidak boleh merokok.

Penggunaan:
a.    Bila akan digunakan sebagai bahan desinfektan, alcohol harus diencerkan sampai 70%.
b.    Petugas yang mengencerkan alcohol dan menggunakan alcohol sebagai pelarut harus memakai pelindung diri yaitu: sarung tangan karet, masker, jas lab, kacamata pelindung atau pelindung muka dan harus berada di dekat fasilitas air mengalir.
c.    Penggunaan oleh medis/paramedis sesuai dengan protap yang berlaku.

Sistem administrasi gudang:
a.       Buku harian penerimaan.
b.      Buku harian pengeluaran.
c.       Kartu persediaan.
d.      Kartu barang.
e.       Surat perintah mengeluarkan barang.
f.       Surat bukti barang keluar.
g.      Surat kiriman barang.
h.      Daftar isi kemasan/packing list.
i.        Berita acara penerimaan barang.
j.        Palaporan: Laporan mutasi, laporan tahunan.
k.      Laporan stock opname.
l.        Pencatatan obat ED/rusak.
m.    Berita acara pemusnahan obat.

Manajemen gudang yang modern merupakan suatu prosedur yang otomatis yang menggunakan ASRS (Autometed Stirage Retrival System). Ada 3 konsep yang dikenal dalam layout gudang yaitu :
a.    Cross docking
     Adalah cara untuk menghindari penempatan bahan atau pasokan di gudang dengan cara memproses secara langsung saat diterima. Hal ini dilakukan untuk menghindari aktivitas penerimaan secara formal, perhitungan stock atau penyimpanan dan pemilihan pesanan sehingga terjadi penghematan biaya. Cross docking membutuhkan :
·  Penjadwalan yang ketat
·  Pengiriman yang diterima  memiliki identitas produk yang akurat
b.    Random stocking
    Digunakan di gudang untuk menempatkan persediaan dimana terdapat lokasi yang terbuka. Teknik ini berarti bahwa ruangan tidak perlu dikhususkan untuk barang- barang tertentu dan fasilitas dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Sistem ini jika terkomputerisasi maka akan meliputi tugas-tugas:
·      Membuat daftar lokasi “terbuka”
·      Membuat catatan persediaan sekarang secara akurat dan juga lokasinya.
·      Mengurutkan barang-barang dalam urutan tertentu untuk meminimalkan waktu perjalanan yang dibutuhkan untuk menjemput pesanan.
·      Memadukan pesanan untuk mengurangi waktu penjemputan.
·      Menugaskan barang atau sekumpulan barang tertentu pada wilayah gudang yang tertentu sehingga jarak tempuh total dalam gudang dapat diminimalkan.
c.    Customizing
Customizing merupakan penggunaan gudang untuk menambahkan nilai produk melalui modifikasi, perbaikan, pelabelan dan pengepakan. Cara ini biasanya berguna untuk menghasilkan keunggulan bersaing dalam pasar, dimana terdapat perubahan produk yang sangat cepat. Cara ini sudah banyak dilakukan oleh perusahaan dengan penyediaan label pada usaha eceran sehingga barang dapat langsung dipajang.

4. Jelaskan tentang:
    a. FEFO (First Expired Date First Out)
Merupakan suatu system penyimpanan dengan cara perbekalan farmasi yang dikeluarkan adalah perbekalan farmasi yang terlebih dahulu ED (expired date/kadaluarsa). Jadi pada sistem ini tidak terjadi penumpukan barang atau obat ED di gudang dan tidak menyebabkan kerugian pada RS.

b. Economic Order Quantity (EOQ)
EOQ adalah jumlah pemesanan yang ekonomis ditinjau dari aspek harga yang terdiri dari biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Model ini merupakan metode yang digunakan untuk menetukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya pemesanan persediaan. Mudah digunakan tetapi didasarkan pada berbagai asumsi:
1.  Permintaan diketahui dan bersifat konstan.
2.  Lead time yaitu waktu tunggu antara pemesanan dan penerimaan, diketahui dan konstan.
3.  Permintaan diterima dengan segera.
4.  Tidak ada discount.
5.  Biaya yang terjadi hanya biaya set up atas pemesanan diketahui dan bersifat konstan.
Model  EOQ biasa digunakan untuk barang jadi yang dibeli, sedang model ELS (Economic Lot Size) biasa digunakan untuk barang yang diproduksi sendiri.

Rumus EOQ  adalah:

EOQ =
Dimana :
Co   :   Cost per Order (sekali pesan).
Cm  :   Cost of maintenance dari persediaan dalam setahun.
 S     :   Jumlah permintaan setahun.
U     : Cost per unit (harga satuan).
Makin besar persediaan berarti resiko penyimpanan serta besarnya fasilitas yang harus dibangun membutuhkan biaya pemeliharaan yang lebih besar juga. Namun dilain pihak biaya pemesanan dan biaya distribusi menjadi lebih kecil. Ini berarti perlu adanya optimalisasi agar tercapai keseimbangan antara membangun persediaan serta biaya distribusi dan pemesanan.

EOQ merupakan jumlah yang paling menguntungkan secara ekonomis. Dimana berdasarkan gambar di atas EOQ ini mencari titik keseimbangan antara ordering cost (biaya pemesanan) dan holding cost (biaya penyimpanan) sehingga pada titik keseimbangan ini dicapai total cost yang paling minimal. Total cost paling minimal pada titik ini dikarenakan pemesanan dengan jumlah ini diperoleh total cost paling rendah saat ordering cost=holding cost).

c. Economic Order Interval (EOI)
EOI adalah jarak pemesanan yang ekonomis (atau menentukan tiap berapa hari atau tiap berapa bulan atau tiap 3 bulan, 6 bulan atau tiap tahun) dilakukan pemesanan ulang agar pemesanan menjadi ekonomis.
Sebuah konsep  yang berhubungan EOQ adalah EOI. Interval teoritis yang ideal untuk jangka waktu pemesanan disebut dengan EOQ. Sebagaimana kasus EOQ, EOI berubah berdasarkan nilai variabel individu dengan biaya akuisisi yang tinggi, EOI menurun (pemesanan pertahun), dan seterusnya. Juga seperti EOQ, rumus EOI menghasilkan rekomendasi yang harus dibulatkan.
Walaupun EOI mempunyai aplikasi yang utama dalam system yang menggunakan EOQ, untuk mengatur kuantitas jumlah pemesanan, EOI dapat digunakan dalam system persediaan obat untuk mengecek interval pemesanan teoritis yang ideal pada pembelian terjadwal dan kemudian untuk mengelompokkan item yang terbaik yang dipesan tiap bulan, tiap 3 bulan, tiap tahun dan seterusnya.

 EOI = 

Dimana:
             Co   :   Cost per Order (sekali pesan).
             Cm  :   Cost of maintenance dari persediaan dalam setahun.
             S      :   Jumlah permintaan setahun.
             U      :   Cost per unit.
Intinya adalah EOI merupakan waktu pemesanan yang menguntungkan secara ekonomis. Dimana pada waktu ini tidak menyebabkan stok kosong tidak tersedia saat dibutuhkan (stock out) maupun stok menumpuk (over stock).
5. Sistem distribusi Floor Stock/FS (sistem persediaan di ruang perawatan):
Sistem distribusi Floor Stock (FS) adalah sistem distribusi dimana semua obat atau alkes (kecuali obat-obat yang jarang dipakai atau yang harganya sangat mahal) disimpan di ruangan dan berasal dari suatu permintaan lewat SOP RS ke IFRS dengan macam dan jumlah obat disesuaikan dengan kekhususan jenis penyakit dan kebanyakan penderita. FS berlaku untuk emergency kit, bahan dasar habis pakai, dan obat yang dibutuhkan cito.

Kelebihan:
a.       Obat yang diperlukan segera tersedia bagi penderita (selalu ada persediaan obat-obatan yang siap pakai untuk pasien, terutama untuk obat-obat yang sifatnya live saving.
b.      Dapat meniadakan/menghindari kemungkinan adanya pengembalian obat-obatan (retur) yang tidak terpakai ke IFRS.
c.       Mengurangi jumlah transkrip penyalinan kembali order/pesanan obat bagi farmasis.
d.      Mengurangi jumlah kebutuhan personil farmasis di IFRS yang diperlukan.
e.       Untuk mengatasi keadaan darurat di ruang.
f.       Dipilih karena kecepatan pelayanan saat kondisi emergency terutama obat live saving.
g.      Perawatan pasien atau diruang tindakan medik/penunjang medik (patien safety).
h.      Terbatas obat live saving.
i.        Bukanlah total floor stock semua obat ada diruang perawatan (jumlah terbatas).

Kekurangan:
a.         Kesalahan pemberian obat meningkat karena order obat tidak dikaji/diperiksa ulang oleh apoteker. Penyiapan obat dan konsumsi dilakukan oleh perawat sendiri, sehingga tidak ada pemeriksaan ganda (meningkatkan kemungkinan terjadinya medication error, misalnya obat yang tertukar terutama pada saat penyerahan obat karena dilakukan oleh perawat dan bukan farmasis).
b.        Meningkatkan persediaan obat di ruang/setiap pos perawatan, sementara ruang terbatas sehingga pemantauan/pengendalian persediaan, mutu dan waktu kadaluarsa kurang diperhatikan oleh perawat akibatnya terjadi penumpukan stok obat di pos perawatan, penyimpanan tidak teratur, mutu obat cepat turun, dan tanggal kadaluarsa kurang diperhatikan sehingga sering terjadi sediaan obat yang tidak dipakai karena telah kadaluarsa.
c.         Memperbesar kemungkinan kebocoran obat (pencurian obat meningkat) karena tidak adanya pengawasan dari pihak lain (farmasis).
d.        Meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan obat karena cara penyimpanan obat yang tidak benar.
e.         Meningkatkan kemungkinan diperlukannya modal/biaya tambahan untuk menyediakan fasilitas tempat penyimpanan yang memadai atas obat-obatan yang ada di setiap tempat perawatan pasien.
f.         Mengakibatkan diperlukannya tambahan waktu dan beban kerja bagi perawat karena harus menangani obat-obatan selain merawat pasien.
g.        Meningkatnya bahaya karena kerusakan obat.
h.        Meningkatkanya kerugian karena kerusakan obat.

Solusi untuk mengatasi kekurangan floor stock dapat dilakukan:
a.       Tempat penyimpanan obat yang satu dengan yang lain diberi pembatas yang jelas dan tulisan nama obat yang jelas dan mudah dibaca sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan pengambilan obat dapat diperkecil.
  1. Melakukan perencanaan pengadaan yang lebih teliti lagi dan meningkatkan frekuensi pengecekan/pemantauan stok obat yang ada di ruangan/pos perawatan oleh apoteker secara berkala sehingga tidak sampai terjadi penumpukan stok obat.
c.       Peningkatan pengetahuan para perawat tentang penyimpanan obat penyiapan obat yang baik, iv admixture bisa melalui pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh apoteker.
  1. Pemantauan obat Sistem pencatatan (daftar obat, pencatatan pemakaian).
Cara pengendalian obat floors stock:
a.       Administrasi yang tertib dan teratur setiap barang masuk dan keluar dicatat dalam kartu stok untuk memudahkan checking.
(1)   Buku catatan daftar obat.
(2)   Kartu stock.
(3)   Prosedur penggunaan obat floors stock.
(4)   Sistem Komputerisasi.
b.      Ada tenaga yang bertanggung jawab yang kompeten terhadap tugasnya.
c.       Dilakukan checking teratur (sering di-check) oleh tenaga IFRS untuk menyesuaikan jumlah barang yang digunakan dan kartu stok.

Lokasi distribusi floor stock:
a.       Ruang rawatan/bangsal.
b.      Ruang tindakan medik mayor/minor.
c.       Ruang tindakan diagnostic.
d.      Klinik rawat jalan dengan tindakan medis minor.

6. Analisis Kasus:

Diketahui:
Pasien Tn. Agus ,
usia 62 tahun,
BB 70 Kg,
TB 164 cm,
resep ini adalah resep pertama yang ditulis dokter (serangan akut).
Keluhan: akhir-akhir ini beliau merasakan serangan asam uratnya semakin memburuk, dua minggu yang lalu beliau datang ke puskesmas untuk tes darah dan dari hasil pemeriksaan petugas puskesmas menyatakan bahwa selain kadar asam urat yang tinggi, ginjal beliau juga sedikit menurun fungsinya (dengan SCr 1,8 mg/dL).
Riwayat pengobatan: Sebelumnya beliau hanya mendapatkan resep piroxicam 20 mg 2 x sehari 1 tablet untuk mengatasi serangan akut asam uratnya.
Karena frekuensi serangan asam urat lebih sering terjadi, maka dokter meresepkan allopurinol 300 mg 1 kali sehari 1 tablet.

Analisis kasus:
Isi resep:

Terapi
Analisis DRP
Rekomendasi
Feldene tab XII
Sbdd tab I pc
Komposisi piroxicam (NSAID)
KI: gagal ginjal, hati, tukak peptik akut
Ganti Indometasin
Allopurinol 300 mg tab X
Ssdd tab I
Allopurinol termasuk terapi untuk gout profilaksis, DRP terapi tidak tepat, care plan terapi diganti.
Allopurinol dihilangkan dan diganti kolkisin
Omeprazole 20 mg tab X
Ssdd tab I ac
Golongan PPI ada obat tidak ada indikasi.
Dihilangkan
Becom-C tab X
Ssdd tab I
Ada obat tidak ada indikasi, pasien tidak ada keluhan pegal-pegal atau mudah capek yang harus mengkonsumsi vitamin. Lalu becom-c mengandung vitamin C 500 mg dikhawatirkan dapat memperberat kerja ginjal.
Dihilangkan


Tn. Agus mendapatkan resep pertama dari dokter sehingga dapat dikatakan Tn. Agus mengalami serangan akut gout, disamping itu pasien mengalami penurunan fungsi ginjal. Resep yang diberikan serta karakteristik masing-masing seperti tabel diatas. Terapi untuk gout akut: obat-obat NSAID, inhibitor selektif COX-2: celecoxib, kolkisin atau kortikosteroid.
Berdasarkan (Priyanto, 2009) NSAID mengurangi inflamasi akut tetapi harus diperhatikan pada individu dengan riwayat ulcer, gagal jantung, gagal ginjal kronik atau penyakit kroner. Karena Tn. Agus mengalami penurunan fungsi ginjal sehingga dapat digunakan indometasin.
Obat ini sama efektifknya dengan kolkisin, tetapi insiden efek samping pada GI lebih kecil. Dosis awal relatif tinggi pada 24-48 jam (1-2 hari), kemudian dosis dikurangi secara bertahap. Misalnya dosis awal 75 mg, diikuti 50 mg tiap 6 jam untuk 2 hari pertama lalu 50 mg tiap 8 jam untuk 1-2 hari berikutnya. Efek samping indometasin berupa sakit kepala, dizziness dan iritasi lambung. Tetapi kecil kemungkinannya menimbulkan efek samping pada pemakaian jangka pendek.
Selanjutnya karena terapi NSAID masih menimbulkan gejala maka dapat dikombinasikan dengan kolkisin. Kolkisin diberikan peroral dengan dosis awal 0,5-1,2 mg dan diikuti 0,5 mg tiap 2 jam hingga gejala hilang/nyeri mereda, atau hingga pasien mengalami mual, muntah, gangguan lambung atau diare atau total dosis mencapai 8 mg. Respon pasien mencapai 75-90% ketika menjalani pengobatan dalam 24-48 jam. Problem utama dari kolkisin adalah dapat menimbulkan gangguan GI pada 50-80& pasien. Kolkisin diberikan bersama makan untuk mengurangi rasa tidak enak pada GI. Untuk menghindari toksisitas pada GI, kolkisin dapat diberikan secara IV dengan dosis awal 2 mg. Jika gejala tidak berkurang dapat ditambah 1 mg pada jam ke 6 dan 12, total dosis 4 mg. Cara pemberian kolkisin harus diencerkan dengan 20 ml cairan fisiologis untuk menghindari sclerosis vena. Pemberian kolkisin harus dihentikan dalam 7 hari untuk menghindari efek toksik pada sumsum tulang belakang.
Jika tidak menimbulkan efek yang baik atau terjadi kontra indikasi dengan NSAID dan kolkisin maka sebagai cadangan dapat diberikan Glukokortikoid. Dosis prednisolon 30-60 mg sehari dan jika pengobatan ingin dihentikan tidak boleh sekaligus tetapi harus secara gradual dengan pengurangan dosis 5 mg/hari. Atau Triamsinolon hexacetonid 20-40 mg diberikan secara injeksi pada intraartikuler.
 Pasien dianjurkan mengkonsumsi makanan yang bernutrisi, minum dalam jumlah cukup dan istirahat cukup.
Menjaga kondisi berat badan sehingga berat badan normal atau bahkan lebih rendah 10-15% dari berat badan normal.
Perlu dihindari mengkonsumsi makanan yang mempunyai kandungan purin tinggi dapat meningkatkan kadar asam urat yang dapat memperburuk keadaan pasien seperti jeroan, usus, babat dan limpa, daging sapi, paru, kacang tanah, bayam, kangkung, daun melinjo, tahu-tempe. Mengurangi konsumsi lemak menjadi sekitar 15% dari total energi yang pada orang sehat sekitar 25%. Jika konsumsi lemak tidak dikurangi, pembakaran lemak menjadi energi akan menghasilkan keton yang akan menghambat ekskresi asam urat.
Hindari faktor pemicu serangan akut gout seperti strres, trauma, minum alkohol, operasi, dan minum obat yang dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah atau obat yang dapat mengurangi kliren atau ekskresi asam urat seperti diuretik (tiazid dan furosemid), asam salisilat, pyrazinamid, INH, ethamutol, asam nikotinat, ethanol, levodova, cyclosporin, dan obat-obat sitotoksik.





Sumber referensi:
Tim Editor, 2011, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 11 2011/2012, Jakarta: Gramedia.
Priyanto, 2009, Farmakoterapi dan Terminologi Medis, Jakarta: Penerbit Leskonfi.
Quick, et al., 1997, Managing Drug Suply, 2nd Edition, Amerika: Kumarin Press.  
Siregar, C.J.P, L. Amalia, 2003, Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan, Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar